Senin, 25 November 2013

RACUN HATI

Ketahuilah bahwa setiap kemaksiatan adalah racun bagi hati.  Kemaksiatan  menyebabkan hati berpaling dari   iradah Allah SWT dan menambah parah hatinya.
Barang siapa yang menginginkan keselamatan dan kehidupan bagi hatinya, hendaklah ia membersihkan hatinya dari pengaruh racun-racun  itu.kemudian menjaganya jangan samapai ada racun lain mengotorinya. Adapun ‘Racun hati’  itu adalah :
  • Banyak bicara
- Diriwayatkan dari Anas bin Malik , Rasulullah SAW bersabda, “keimanan seseorang hamba tidak akan lurus sebelum lurus hatinya, dan hatinya tidak akan lurus sebelum lurus lisannya,”

- Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Umar ra secara marfu’ bahwa ia berkata
Janganlah kalian berbanyak kata selain dzikrullah, sesungguhnya hal itu akan menjadikan kerasnya hati . Dan manusia yang paling jauh dari Allah adalah pemilik hati yang keras.

-Umar bin Khatab r.a. berkata:
“Barang siapa banyak bicaranya, banyak kekeliruannya. Barang siapa banyak kekeliruannya banyak dosanya. Dan barang siapa yang banyak dosanya maka neraka adalah tempat yang pantas baginya”

-Rasulullah bersabda ; “ Barang siapa yang memberi jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara dua jenggotnya (mulut) dan dua paha (kemaluan) aku jamin baginya surga”.
Hadis Riwayat Bukhari dari Sahl bin Sa’d , Rasulullah juga menjamin tentang kebaikan lisan dalm sabdanya “… Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir , hendaklah ia berkata yang baik atau diam..”
  • Banyak makan
Sedikit makan dapat melembutkan   hati, menguatkan daya pikir , membuka diri , serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya.

-Miqdam bin Ma’d Yakrib berkata,” Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“ Tidak ada bejana yang lebih buruk dari pada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam yang lebih buruk daripada pertunya. Cukuplah  bagi anak Adam beberapa suap  untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa maka sepertiga dari perutnya hendak diisi untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya..(Hadits Shahih diriwayatkan  Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al Hakim)
Berlebihan dalam makan mengakibatkan banyak hal buruk. Ia Ia akan menjadikan berbuat untuk beribadah dan berbuat taat, akhirnya ia akan menggerakan anggota badannya untuk berbuat kemaksiatan. Hal ini pun sudah cukup sebagai suatu keburukan  bagi anda. Pun setan lebih terampil memperdaya manusia ketika perutnya dipenuhi makanan. Karenanya, tersebut dalam atsar. Persempitlah jalan setan dengan puasa
Seringkali Rasulullah dan para sahabat berada dalam keadaan lapar – walaupun itu  memang karena tidak adanya makanan. Tetapi bukankan Allah SWT hanya memilihkan keadaan yang terbaik bagi Rasul Nya? Itulah sebabnya Ibnu Umar r.a. berusaha untuk mengikutinya, walaupun dia mampu untuk makan apa saja. Demikian pula dengan ayahnya.
Aisyah meriwayatkan ,” Sejak masuk ke Madinah,  keluarga Rasulullah SAW belum pernah merasa kenyang akan roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai  beliau wafat.”a
Ibrahim bin Adham berkata,” Barang siapa memelihara perutnya akan terpelihara agamanya. Barang siapa mampu menguasasi rasa laparnya akan memiliki akhlak yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Allah SWT itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dari seorang yang kenyang.
  • Banyak memandang
Membiarkan pandangan lepas bebas sehingga banyak hal-hal yang haram terlihat adalah kemaksiatan kepada Allah SWT. Karena firmannya, “ Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar menjaga pandangan dan menjaga kemaluan mereka . Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat (An Nur : 30)

-Rasulullah SAW bersabda : “Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya karena Allah, Dia akan berikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu denganNya..”

- Sebuah hadits diriwayatkan dari Ath Thabarani, Imam Ahmad dan Abu Usamah dengan lafazh, ” Tidaklah seorang mukmin itu memandang kecantikan wanita lalu menundukkan pandangannya kecuali Allah menjadikan hal itu sebagai ibadah baginya, yang ia meraasakan kemanisannya”.
Al Baihaqy menjelaskan” Jika hadits ini shahih, maksudnya adalah – wallahu a’lam- pandangan yang jatuh kepada wanita itu tidak disengaja kemudian ia berpaling dalam rangka wara”(menjaga diri).
Tentang keharaman memandang yang ‘bukan mahramnya ini’, Rasululah bersabda,” Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya.
  • Banyak bergaul
Banyak teman adalah suatu hal yang positif jika membawa kebaikan. Tetapi dalam bergaul ini hendaknya kita mampu untuk membedakan macam karakter manusia sehingga tidak berbalik membawa bencana pada ahlaq maupun aqidah.
Bergaul dengan para ulama dan ahli ma’rifatullah harus dibiasakan seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi setiap hari. Ia dibutuhkan siang dan malam. Mereka dapat memberikan nasihat kepada hati kita dan megetahui tipu-tipu daya setan terhadapnya.
Bergaul dengan para ahli dalam urusan muamalat , bisnis dan semisalnya , maka  mereka bagaikan obat  dikala dibutuhkan ketika sakit. Diperlukan  namun tidak harus setiap saat.
Yang harus dihindari adalah bergaul dengan orang yang ‘menebar’ racun . Mereka adalah ahli bid’ajh dan kesesatan , yang kesukaannya adalah mengajak orang untuk menjauh dari sunnah Rasul dan selalu menyeru untuk  menyelisihinya. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah dan sebaliknya.

Rabu, 31 Juli 2013

JOKOWI BUKA TOPENGMU - 2

  • 1. Eng ing eeng....Jokowi Ahok : Malaikat, Nabi atau hanya pemburu ambisi ?

  • 2. Kita sdh bongkar habis maksud Jokowi yang ngebet mau jadi Capres 2014 padahal masa jabatanya baru dia jalani selama 9 bulan (15 okt 2012)

  • 3. Jika nanti Jokowi jadi nyapres, ketika dia nyatakan resmi jadi Capres, maka konsentrasinya akan full 100% untuk penuhi ambisi pribadinya

  • 4. Anggap saja pada awal tahun 2014, Jokowi putuskan akan jadi Capres. Maka masa jabatan yg sdh dia jalanani sbg Gub DKI hanya 1 thn 2 bulan

  • 5. Apa makna dari pencapresan Jokowi itu dari perspektif moral, etika dan hukum ? kita bahas secara detail agar rakyat tahu siapa Jokowi itu

  • 6. Sebelumnya, Ahok juga tercatat sebagai politisi yang gemar mundur ditengah jalan. Sbg Bupati BelitungTimur, dia hny jalani 15 bulan saja

  • 7. Sebagai anggota DPR dari Fraksi Golkar, Ahok hanya jalani masa baktinya sekitar 2 tahun saja.

  • 8. Ahok mundur dari jabatan Bupati Beltim karena mengejar jabatan Gubernur Bangka Belitung. Pada Pilgub dia kalah.

  • 9. Kemudian Ahok mengejar jabatan Gubernur Sumut. Sayangnya dia tidak laku di Sumut. Gagal mencalonkan diri. Tak ada yg mau. Ditolak mentah2

  • 10. Jokowi mundur dari jabatan walikota Solo periode kedua, ketika baru jalani masa jabatan kedua selama hanya 1.5 tahun saja.

  • 11. Jokowi dan Ahok adalah dua manusia yg karakternya hampir sama : pemburu jabatan, tidak amanah, khianat dan mudah menipu rakyat

  • 12. Ketika seorang terpilih menjadi pejabat publik seperti walikota, bupati, gubernur dst...dia punya tanggung jawab moral, etik & hukum

  • 13. Sebelum terpilih jadi pejabat publik, semua kandidat berjanji kepada rakyat, massa pemilihnya. Semua angin surga dan program2 ditawarkan

  • 24. Di Indonesia, masa jabatan pejabat publik umumnya 5 tahun. Setelah dapat dipilih kembali. Tentunya jika berprestasi atau rakyat suka

  • 25. Seorang Gubernur yg baru menjabat kurang dari setahun dari 5 thn masa jabatan, lalu ingin maju sbg capres, apakah dpt disebut bermoral?

  • 26. Ketika Gubernur itu ingin maju sbg Capres padahal hasil kerjanya belum ada sama sekali, itu sama saja TIDAK PUNYA ETIKA. Tdk bermoral

  • 27. Gubernur itu sdh pasti telah membohongi rakyat pemilihnya

  • 28. Gubernur itu sudah pasti mengingkari janji2nya. Gubernur itu adalah pembohong. Penipu. Kriminal. Penjahat.

  • 29. Gubernur itu juga adalah seorang pengkhianat. Amanah yang diberikan rakyat, dia khianati dgn mudahnya.

  • 30. Gubernur yang ketika diberi amanah dia khianat, ketika berjanji dia ingkar, ketika berkata dia dusta, itu adalah Gubernur MUNAFIK !

  • 31. Dan seburuk2nya manusia adalah manusia yang munafik. Perbuatan yang dibenci Tuhan adalah perbuatan orang2 munafik

  • 32. Tuhan lebih membenci pemimpin yang munafik daripada pemimpin yg zalim. Pemimpin yg munafik, tempatnya di neraka jahanam

  • 33. Secara konstitusional, Jokowi berhak maju sebagai capres jika syarat2nya telah terpenuhi. Meski pun Jokowi telah terbukti sbg munafikun

  • 34. Konstitusi kita tidak mengatur sanksi pada pemimpin2 yang munafik. Tetapi pada pasal 7 jelas bhw presiden itu tdk boleh tercela

  • 35. Mana yang lebih parah atau yg lebih buruk : Pemimpin tercela atau pemimpin yang munafik, pembohong, penipu, khianat, ingkar dan glembuk?

  • 36. Jika Jokowi niat maju capres, artinya dia telah langgar sumpahnya sebagai Gubernur Jakarta periode 2012-2017

  • 37. Kami sendiri punya catatan mengenai janji2 Jokowi saat kampanye Pilgub DKI thn 2012 lalu. Sedikitnya ada 37 janji Jokowi jika terpilih

  • 38. Janji terbesar Jokowi pada rakyat Jakarta adalah : atasi banjir, kemacetan, turunkan tingkat kemiskinan, bangun lap sepak bola, dll

  • 39. Nanti kami angkat twitkan semua janji2 Jokowi saat Pilgub kemaren, dan akan buktikan bhw belum ada 1 pun janji Jokowi yang terealisir

    40. Janji - janji Jokowi akan jadi janji palsu. Janji seorg penipu. Janji seorg tak beretika/ bermoral. Korbankan rakyat Jakarta demi ambisi

  • 41. Jangan hanya karena opini yang dibangun media2 bayaran dan akun2 bayaran yg terus puja-puji Jokowi bagaikan seorang nabi (palsu)

  • 42. Media2 dan lembaga2 survey yang sdh dibayar mahal utk seting Jokowi sbg capres ideal rela lacurkan idealisme persnya

  • 43. Rakyat yang tidak tahu siapa Jokowi sebenarnya terpukau dgn penampilan Jokowi yang seolah2 tulus dan apa adanya. Padahal glembuk hehe

  • 44. Apakah Jokowi tidak boleh nyapres ? Boleh saja asalkan dia sdh tunaikan kewajiban dan tanggungjawabnya kepada rakyat Jakarta

  • 45. Jokowi dan Ahok adalah satu tipe, karakter yang sama. Penampilan luarnya begitu mempesona, padahal mereka tdk beretika

  • 46. Namun, jika Jokowi maju jadi capres dan Ahok jadi Gub Jakarta, Jokowi pantas dikecam dan dicaci maki. Ahok tidak.

  • 47. Ahok tidak pantas dicaci maki karena sebagai Gubernur Jakarta dia malah on the track untuk penuhi janjinya selama kampanye dulu

  • 48. Pertanyaan : apakah kita menerima seorang tak beretika, tak bermoral, penipu, pembohong, kriminal, munafik dst jadi Capres ??

  • 49. Jangankan untuk jadi capres, menjabat sbg Gub DKI saja, dia sdh tak layak karena jelas2 khianati amanah rakyat DKI yg dititipkan padanya

  • 50. Quo Vadis Jokowi ? Going to Heaven or Hell ? Masih minat jadi Capres ? Sementara DKI Jakarta menuntut tanggungjawabmu. Sekian. MERDEKA !

JOKOWI BUKA TOPENGMU

  • 1. Eng ing eeng... bahas lagi Jokowi deh. Masih saja banyak yg tanya dan penasaran. Knp ada orang yg tiba2 saja, mayoritas media puji2 dia

  • 2. Jokowi dinilai fenomenal. Knp ? Kerena media bilang seperti itu. Dimanakah fenomenal jokowi ini ? Mari kita urai 1 per satu, spya clear
     
  • 3. 1/ jokowi dinilai sbg walikota terbaik. Benarkah ? Siapa yg nilai Jokowi walikoa terbaik ? Pemerintah? Lembaga resmi yg credible? Dunia?
     
  • 4. Pemerintah tidak pernah menganugerahkan Jokowi sebagai Walikota terbaik. Prestasinya sbg Walikota biasa2 saja. Tidak istimewa
     
    5. Silahkan pelajari laporan kinerja Jokowi sbg Walikota Solo. Mulai dari 2005- 2010 atau 2010 - 2015 (yg dijalaninya hny sampai 2012)

  • 6. Pertumbuhan ekonomi, perluasan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, GDP, IPC, dll di bawah rata2 nasional. 4-5% saja

  • 7. Tingkat pengangguran, kemiskinan, DO, kriminal /kejahatan, human trafficking /perdagangan manusia, pelacuran dll tertinggi di Jateng

  • 8. Hampir semua catatan statistik atau parameter yg jadi standar penilaian resmi tidak menunjukan Jokowi itu sbg Walikota berprestasi

  • 9. Lalu kenapa Jokowi itu populer di Solo dan bisa terpilih kembali di periode kedua ? Mari kita urai fakta2nya

  • 10. Jokowi menang pada pemilihan periode pertama karena saingannya walikota Incumbent bermasalah. Terjerat banyak dugaan korupsi & arogan

  • 11. Jokowi muncul sbg cawalkot dgn sosok antitesa incumbent. Dia menampilkan karakter yg ramah, rendah hati, egaliter dan rajin blusukan

  • 12. Setelah terpilih di periode I (2005-10) Jokowi meneruskan gaya blusukannya dan habiskan waktu di tengah2 warganya. Wakilnya yg di kantor

  • 13. Konsistensi Jokowi yg terus blusukan itu menyebabkan hampir semua rakyat Solo merasa dekat dgn walikotanya

  • 14. Sementara fungsi, tugas dan tanggung jawab utama sbg kepala pemerintahaan lebih banyak dijalankan oleh wakilnya

  • 15. Blusukan temui warga yg dilakukan Jokowi ini sangat efektif memgangkat popularitasnya di Solo. Beda 180 derajat dgn walkot sebelumnya

  • 16. Shggameski kinerja Jokowi sbg walikota solo berdasarkan parameter standar berada di bawah rata2, jokowi bs menang besar di periode II

  • 17. Apakah ada prestasi khusus yg diraih Jokowi selama menjabat walikota Solo (2005-2012) ? Ada.

  • 18. Jokowi dianugerahi walikota terbaik bidang partisipasi pembangunan masyarakat dari sebuah organisasi di Thailand

  • 19. Penghargaan bidang partisipasi itu diterima Jokowi karena keberhasilannya memindahkan pedagang pasar Klewer yg akan direvitalisasi

  • 20. Metode pendekatan yg dilakukan Jokowi thdp pedagang2 pasar dan PKL2 yg penuhi jalan2 utama kota solo dilakukannya dgn persuasif

  • 21. Pendekatan ala jokowi itu berlangsung berbulan2 bahkan hampir setahun, berkali2 bertemu dgn para PKL. Ada yg puluhan, ada yg hampir 100x

  • 22. Metode tsb tentu efektif, apalagi para pedagang /PKL tsb dijamu makan di rumah dinas walikota. Semua PKL puas. Mau pindah sukarela

  • 23. Atas prestasi itulah Jokowi dianugerahi walikota terbaik dlm bidang pendekatan /partisipasi publik. Lalu, beliau mulai terkenal

  • 24. Popularitas Jokowi menanjak ketika TEMPO menobatkannya sbg Walikota terbaik bersama2 sejumlah walikota/bupati lainnya
  • 25. Semua penghargaan Jokowi itu terkait dgn prestasinya yg unik krna mampu pindahkan PKL dgn sukarela meski waktu yg sangat lama

  • 26. Seharusnya metode yg dilakukan Jokowi itu jd beban pemkot Solo, akibatkan tugas prioritas lainnya tertunda..tapi ternyata tdk terjadi

  • 27. Pekerjaan yg bertele tele dari Jokowi itu tdk jadi beban krn semua pekerjaan atau tanggung jwb dari walikota dikerjakan oleh wakilnya

  • 28. Dengan kata lain sebagai walikota de jure Jokowi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk blusukan, keliling, bujuk pedagang/ PKL dst.

  • 29. Apakah keberhasilan Jokowi memindahkan pedagang/PKL dlm waktu yg lama dan boros itumetupakan prestasi ? Mari kita bandingkan.

  • 30.Walikota Makassar memindahkan ratusan pedagang kaki lima disepanjang pantai Losari Makassar dgn cara lebih smart, efisien & lebih efektif

  • 31.Caranya yaitu Walikota membuat panggung hiburan pasar malam di Pulau seberang pantai. Tanpa disuruh/dibujuk,para PKL pindah ke pulau, tsb

  • 32.Sebaliknya yg dicapai olh Jokowi ketika dia berhasil memindahkan PKL & pedagang dgn waktu yg sangat lama & energi yg sangat besar,

  • 33. .. Ternyata para pedagang/PKL tsb kembali lagi ke pasar semula. Bahkan banyak pedagang pasar/PKL yg kemudian memprote/Demo jokowi.

  • 34. Hal tsb ditimbulkan krn para pedagang pasar/PKL yg direlokasi tidak puas krn dipasar yg baru dagangan mereka tdk laku, sepi pembeli.

  • 35. Meski pun tdk efesien, tdk efektif, tdk smart dan belakangan gagal, upaya jokowi tsb sdh mencuri hati publik. Telanjur diapresiasi luas

  • 36. Dengan popularitas yg mulai melonjak itu, jokowi awalnya tdk ada rencana utk maju jadi cagub DKI. Pilkada Jatenglah yg jadi targetnya

  • 37. Namun, konstelasi politik di DKI pre pilgub mengubah nasib Jokowi. Dia pun diperjuangkan JK, Prabowo dan Djan Faridz utk jadi Cagub PDIP

  • 38. Nah, mari kita lihat fakta2 bgmn Jokowi sebenarnya bukanlah pribadi yg jujur. Pertama : mengenai mobil Esemka yg diklaimnya sbg pioner

  • 39. Jokowi gegap gempita promosikan Mobnas Esmka yg dimuat dimedia2 massa nasional tanpa menginformasikan bhw mobnas itu bukan proyeknya

  • 40. Proyek mobnas Esemka adalah proyek kerjasama Kemendikbud dan Kemenperindustrian..tdk ada peran jokowi disana. Dia hny menumpang tenar sj

  • 41. Sekarang lihatlah, mana Mobnas Esemka yg dulu ditunggangi Jokowi demi popularitasnya. Bahkan aturan pun dia langgar demi promosi diri

  • 42. Pertengkarannya dgn Gub Jateng juga melambungkan namanya. Dgn gayanya yg glembuk itu, Gub Jateng yg posisinya benar malah dikecam publik

  • 43. Dukungan yg tdk rasional dari media massa yg giring opini sesat dimana jokowi harus selalu dibenarkan juga terjadi di program KJS DKI

    44. Jokowi yg ingin terus populer grasa grusu terbitkan Pergub/SK Gub tentang warga yg berhak nikmati KJS. Dia tabrak Perda yg ada

  • 45. Ketika DPRD dan warga yg kritis rencanakan utk minta penjelasan dari Jokowi, dgn ngeles dia malah alihkan idgn lontarkan isu baru

  • 46. Jokowi dgn enteng menuduh DPRD DKI memang sdh lama tdk suka dirinya dan mau menjatuhkannya. Akibat pelintiran ini, mediapun serang DPRD

  • 47. Jokowi yg dulu diperjuangkan habis2an oleh JK dan Prabowo, kini malah mengkhianati kedua tokoh tsb. JK dikalahkan dlm Proyek MRT

  • 48. Jokowi lebih memilih menunjuk ORTUS milik Edward S yg memang sdh lama support dana ke jokowi. JK pun gigit jari. Besarkan anak macan

  • 49. Prabowo yg berharap JokowiAhok akan topang dan bantu tingkatkan popularitas dan elektabilitasnya, malah bernasib lebih sial gara2 Jokowi

  • 50. Jokowi yg temukan donatur2 baru di 1/3 masa kampanye Pilgub DKI, kemudian lebih patuh pada donatur2 baru yg punya agenda tersembunyi itu

  • 51. Sponsor2 baru dipatuhi Jokowi, sponsor2 lama dilupakan. Kenapa? Karena sponsor2 baru menjanjikan kursi presiden RI utk Jokowi

  • 52. Kembali dgn menggunakan gaya glembuk solo dan tipu dayanya, Jokowi yg semula bilang tdk ingin nyapres, lalu pelan2 berubah statementnya

  • 53. Dengan dukungan dana tak terbatas dari para mafia dan konglomerat korup termasuk buronan BLBI, popularitas jokowi dilambungkan media

  • 54. Lembaga2 survey pun dibayar mahal agar mau selalu tempatkan Jokowi sbg capres terpopuler dan elektabilitas tertinggi. Semua rekayasa

  • 55. Lihatlah sekarang ini, 70% media2 besar sdh kontrak mahal dgn donatur2 jokowi utk masa promosi sampai dengan 2014 yad

  • 56. Detikcom bahkan sediakan satu kanal khusus utk berita2 Jokowi. Semua aktivitasnya, penting atau kacangan, dimuat tiap hari di detik

  • 57. Tidak kurang 15-20 berita ttg jokowi harus dimuat di detikcom itu. Kompas, Tempo, R Merdeka, Metro TV, SCTV dll selalu promosikan jokowi

  • 58. Semua itu tidak gratis. Biayanya sangat mahal dan ditanggung oleh para sponsor Jokowi.

  • 59. Semua aktivitas promosi diri Jokowi itu dilakukan secara sistematis dan terencana. Kesannya saja seolah2 alami atau wajar

  • 60. Apalagi promosi yg dilakukan oleh jaringan first media grup milik James Riady, kordinator semua konglomerat tionghoa pendukung Jokowi

  • 61. Jokowi yg sdh terbius dlm kepopuleran yg diseting mayoritas media mainstream dan lmbga2 survey mulai makin tunjukan sifat aslinya

  • 62. Tanpa malu2 kini Jokowi terus manuver untuk bisa maju sbg capres di 2014. Dia lupakan FAKTA NYATA bhw dia belum SATU TAHUN jadi Gub DKI

  • 63. Jokowi jadi Gub DKI terhitung sejak 15 Oktober 2012. Skeg bukan juli 2013 alias baru 9 bulan menjabat. Sdh mau tinggalkan amanah rakyat

  • 64. Manusia macam apa, standar moralitas yg bgmn dianut Jokowi? Dia gelap mata pengen nyapres pdhl masa baktinya masih seumur jagung

  • 65. Dengan mudahnya dia abaikan amanah rakyat yg memilihnya sbg Gub DKI. Dgn mudah dia lecehkan makna pilkada DKI yg ratusan M biayanya

  • 66. Hnya krn popularitas artifisial & lembaga survey bayaran, Jokowi tega aji mumpung mau fokus jadi capres, tinggalkan tggjwab sbg Gub DKI

  • 67. Siapa saja yg menilai Jokowi sdh layak dan pantas jadi capres silahkan mendukungnya. Namun, bagi kami, Jokowi blm pantas sama sekali

  • 68. Semua janjinya kepada rakyat Jakarta belum ada 1 pun terpenuhi. Macet, banjir, penataan trotoar, pasar, parkir dll...semua masih NOL

  • 69. Kini, Jokowi sibuk fokus kasak kusuk kesana kemari mau nyapres. Sungguh tdk bermoral. Tdk punya etika. Tdk bertanggungjawab. Memalukan

  • 70. Sementara Ahok, sesuai kesepakatan awal, sdh ngebet mau jadi Gub DKI. Monggo, silahkan saja, itu masih sesuai dgn amanah rakyat Jakarta

  • 71. Keserakahan, ambisi dan moralitas bobrok Jokowi sesungguhnya telah terlihat saat ini. Dia mau khianati pemilihnya. Rakyat Jakarta

  • 72. Orang seperti Jokowi itu yg nanti di 2014 mau kita percayai memimpin republik ini ? Innalilahi...Mending kita pilih badut ancol saja !

  • 73. Sekian dulu aaah.....MERDEKA !!!

Jumat, 21 Juni 2013

NIFSU SYABAN

Segala puji hanyalah bagi Allah, yang telah menyempurnakan agamaNya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, pengajak ke pintu taubat dan pembawa rahmat.
Amma ba’du :

Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).

“Apakah mereka mempunyai sesembahan sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridloi Allah ? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang orang yang dhalim itu akan memperoleh azab yang pedih” (QS. As syuro, 21).

Dari Aisyah, Radliyallahu ‘anhu berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka tidak akan diterima”.

Dan dalam riwayat imam Muslim, Rasulullah bersabda :

“Barang siapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.

Dalam shahih Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata : bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu khutbah Jum’at nya :
“Amma ba’du : sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah Kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan (dalam agama) adalah yang diada adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu sesat” (HR. Muslim).

Masih banyak lagi hadits hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan untuk umat ini agamanya, Dia telah mencukupkan nikmatNya bagi mereka, Dia tidak akan mewafatkan Nabi Muhammad kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umatnya, dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun perbuatan.

Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang akan diada adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbatkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bad’ah yang ditolak, meskipun niatnya baik.
Para Sahabat dan para Ulama mengetahui hal ini, maka mereka mengingkari perbuatan perbuatan bid’ah dan memperingatkan kita dari padanya, hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang penerapan Sunnah dan pengingkaran bid’ah, seperti Ibnu Waddhoh At Thorthusyi dan As Syaamah dan lain lain.

Diantara bid’ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid’ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya’ban (tanggal 15 sya'ban, red), dan menghususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu, padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadits-hadits yang menerangkan tentang fadlilah malam tersebut, tetapi hadits-hadits tersebut dhoif, sehingga tidak dapat dijadikan landasan, adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan sholat pada hari itu adalah maudlu /palsu.

Dalam hal ini, banyak diantara para ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan penghususan puasa dan fadlilah sholat pada hari Nisfu Sya’ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka.
 
Pendapat para ahli Syam diantaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” mengatakan bahwa perayaan malam nisfu sya’ban adalah bid’ah, dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya semuanya lemah, hadits yang lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits yang shoheh, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya’ban tidak ada dasar yang shohih, sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits-hadits yang dlo’if.

Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini, dan kami akan menukil pendapat para ulama kepada para pembaca, sehingga masalahnya menjadi jelas. Para ulama telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah Rasul (Al Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu dari padanya, maka wajib diikuti, dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan (dalam Al Qur’an dan As Sunnah) adalah bid’ah, tidak boleh dikerjakan, apalagi mengajak untuk mengerjakannya dan menganggapnya baik.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An Nisa’ :
“Hai orang orang yang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul(Nya), dan Ulil Amri (pemimpin) diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesutu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Al Hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An nisa’, 59).

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat sifat demikian), itulah Tuhanku, KepadaNya-lah aku bertawakkal dan kepadaNya-lah aku kembali” (QS. Asy syuro, 10).

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu ” (QS. Ali Imran, 31).

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya ” (QS. An Nisa’, 65).

Dan masih banyak lagi ayat ayat Al Qur’an yang semakna dengan ayat ayat diatas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al Qur’an dan Al Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya. Sesungguhnya hal itu adalah konsekwensi iman, dan merupakan perbuatan baik bagi para hamba, baik di dunia atau di akherat nanti, dan akan mendapat balasan yang lebih baik.

Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya’ban, Ibnu Rajab berkata dalam bukunya “Lathoiful Ma’arif” : para Tabi'in penduduk Syam (Syiria sekarang) seperti Kholid bin Ma’daan, Makhul, Luqman bin Amir, dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfi Sya’ban, kemudian orang-orang berikutnya mengambil keutamaan dan bentuk pengagungan itu dari mereka.

Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, ketika masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin, ada yang menerima dan menyetujuinya, ada juga yang mengingkarinya, golongan yang menerima adalah ahli Bashrah dan lainnya, sedangkan golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas penduduk Hijaz (Saudi Arabia sekarang), seperti Atho dan Ibnu Abi Mulaikah, dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Ulama fiqih Madinah, yaitu ucapan para pengikut Imam Malik dan lain lainnya ; mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid’ah, adapun pendapat ulama Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan adanya dua pendapat :
1- Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya’ban dalam masjid dengan berjamaah adalah mustahab (disukai Allah).
Dahulu Khalid bin Ma’daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar kemenyan, memakai sipat (celak), dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid, ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih, ia berkata : "Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara berjamaah tidak dibid’ahkan", keterangan ini dicuplik oleh Harbu Al Karmaniy.
2- Berkumpulnya manusia pada malam Nisfi Sya’ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdoa adalah makruh hukumnya, tetapi boleh dilakukan jika menjalankan sholat khusus untuk dirinya sendiri.
Ini pendapat Auza’iy, Imam ahli Syam, sebagai ahli fiqh dan ulama mereka, Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkan pendapat Imam Ahmad tentang malam Nisfu Sya’ban ini, tidak diketahui.

Ada dua riwayat yang menjadi sebab cenderung diperingatinya malam Nisfu Sya’ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Iedul Fitri dan Iedul Adha), dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, riwayat yang lain berpendapat bahwa memperingati malam tersebut dengan berjamaah disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk Tabi’in. Begitu pula tentang malam nisfu sya’ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan Tabiin ahli fiqh (yuris prudensi) yang di Syam (syiria), demikian maksud dari Al Hafidz Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).

Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfi Sya’ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para Sahabat. Adapun pendapat Imam Auza’iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan sholat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al Hafidz Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dloif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil dalil syar’i tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada-adakan dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi sembunyi ataupun terang terangan, landasannya adalah keumuman hadits Nabi :
“Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang belum pernah kami perintahkan, maka ia tertolak”.
Dan banyak lagi hadits hadits yang mengingkari perbuatan bid’ah dan memperingatkan agar dijauhi.
Imam Abu Bakar At Thorthusyi berkata dalam bukunya “Al Hawadits wal bida” : diriwayatkan oleh Wadhoh dari zaid bin Aslam berkata : kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqh kami yang menghadiri perayaan malam nisfu sya’ban, tidak mengindahkan hadits Makhul yang dloif, dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam malam lainya.

Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Zaid An numairy berkata : "Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya’ban menyamai pahala lailatul qadar, Ibnu Abi Mulaikah menjawab : "Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat pasti saya pukul, Zaid adalah seorang penceramah".

Al ‘Allamah Asy Syaukani menulis dalam bukunya “Al Fawaidul Majmuah” sebagai berikut : bahwa hadits yang mengatakan :
“Wahai Ali, barang siapa yang melakukan sholat pada malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, ia membaca setiap rakaat Al fatihah dan Qul huwallah ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya … dan seterusnya.

Hadits ini adalah maudhu’, pada lafadz-lafadznya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal), hadits ini diriwayatkan dari kedua dan ketiga jalur sanad, kesemuanya maudhu dan perawi-perawinya tidak diketahui.
Dalam kitab “Al Mukhtashor” Syaukani melanjutkan : hadits yang menerangkan tentang sholat Nisfu Sya’ban adalah bathil, Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Tholib Radhiyallahu ‘anhu : jika datang malam Nisfu Sya’ban bersholat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dloif.

Dalam buku “Allaali” diriwayatkan bahwa : "Seratus rakaat pada malam Nisfi sya’ban (dengan membaca surah) Al ikhlas sepuluh kali (pada setiap rakaat) bersama keutamaan keutamaan yang lain, diriwayatkan oleh Ad Dailami dan lainya bahwa itu semua maudlu’ (palsu), dan mayoritas perowinya pada ketiga jalur sanadnya majhul (tidak diketahui) dan dloif (lemah).

Imam As Syaukani berkata : Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan (membaca surat) Al Ikhlas tiga puluh kali itu maudlu’ (palsu), dan hadits empat belas rakaat … dan seterusnya adalah maudlu’ (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).
Para fuqoha (ahli yurisprudensi) banyak yang tertipu dengan hadits hadits diatas, seperti pengarang Ihya Ulumuddin dan lainnya, juga sebagian dari para ahli tafsir, karena sholat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya’ban telah diriwayatkan melalui berbagai jalur sanad, semuanya adalah bathil / tidak benar dan haditsnya adalah maudlu’.

Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat Turmudzi dan hadits Aisyah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Baqi’ dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban, untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing, karena pembicaraan kita berkisar tentang sholat yang diadakan pada malam Nisfu Sya’ban itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqothi’ (tidak bersambung) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan diatas, mengenai malam Nisfu Sya’ban, jadi dengan jelas bahwa sholat (khusus pada) malam itu juga lemah dasar hukumnya.

Al Hafidz Al Iraqi berkata : hadits (yang menerangkan) tentang sholat Nisfi Sya’ban itu maudlu dan pembohongan atas diri Rasulallah”.

Dalam kitab “Al Majmu” Imam Nawawi berkata : sholat yang sering kita kenal dengan sholat Roghoib ada (berjumlah) dua dua belas rakaat, dikerjakan antara maghrib dan Isya’, pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya’ban, dua sholat ini adalah bid’ah dan munkar, tidak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu, hanya karena disebutkan di dalam buku “Quutul qulub” dan “ Ihya Ulumuddin” (Al Ghozali, red) sebab pada dasarnya hadits hadits tersebut bathil (tidak boleh diamalkan), kita tidak boleh cepat mempercayai orang orang yang tidak jelas bagi mereka hukum kedua hadits itu, yaitu mereka para imam yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits itu, karena ia telah salah dalam hal ini.

Syekh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail Al Maqdisi telah mengarang sebuah buku yang berharga, beliau menolak (menganggap bathil) kedua hadits diatas (tentang malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin, dalam hal ini telah banyak pendapat para ulama, jika kita hendak menukil pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.

Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al Qur’an dan beberapa hadits, serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya’ban dengan pengkhususan sholat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa, itu semua adalah bid’ah dan munkar, tidak ada landasan dalilnya dalam syariat Islam, bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, marilah kita hayati ayat Al Qur’an di bawah ini :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridloi Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah, 3).

Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas, selanjutnya marilah kita hayati sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam :
“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu perbuatan (dalam agama) yang sebelumnya tidak pernah ada, maka ia tertolak”.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum’at dari pada malam malam lainnya dengan sholat tertentu, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang harinya dari pada hari-hari lainnya dengan berpuasa tertentu, kecuali jika hari bertepatan dengan hari yang ia biasa berpuasa (bukan puasa khusus tadi)” (HR. Muslim).

Seandainya pengkhususan malam itu dengan ibadah tertentu diperbolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum’at itu lebih baik dari pada malam malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari oleh matahari ? hal ini berdasarkan hadits hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang shohih.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang untuk mengkhususkan sholat pada malam hari itu dari pada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lainpun lebih tidak boleh dihususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shohih yang mengkhususkan/menunjukkan adanya pengkhususan, ketika malam Lailatul Qadar dan malam malam bulan puasa itu disyariatkan supaya sholat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu, maka Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits shohih :
“Barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada bulan Ramadlan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah Subhaanahu wa Ta’ala akan mengampuni dosanya yang telah lewat, dan barang siapa yang berdiri (melakukan sholat) pada malam lailatul qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (Muttafaqun ‘alaih).

Jika seandainya malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at pertama pada bulan Rajab, serta malam isra’ dan mi’raj itu diperintahkan untuk dikhususkan, dengan upacara atau ibadah tertentu, pastilah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada umatnya, atau beliau melaksanakannya sendiri, jika memang hal itu pernah terjadi niscaya telah disampaikan oleh para sahabat kepada kita ; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan paling banyak memberi nasehat setelah para Nabi.

Dari pendapat para ulama tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah, ataupun dari para sahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya’ban dan malam Jum’at pertama pada bulan Rajab.

Dan dari sini kita mengetahui bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid’ah yang diada adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan malam tersebut dengan ibadah tertentu adalah bid’ah mungkar, sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra’ dan Mi’raj, begitu juga tidak boleh dihususkan dengan ibadah ibadah tertentu, selain tidak boleh dirayakan dengan upacara upacara ritual, berdasarkan dalil dalil yang disebutkan tadi.
Hal ini, jika (malam kejadian Isra’ dan Mi’raj itu) diketahui, padahal yang benar adalah pendapat para ulama yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra’ dan Mi’raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra’ dan Mi’raj itu pada tanggal 27 Rajab adalah bathil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits yang shahih, maka benar orang yang mengatakan :
“Sebaik-baik perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para Salaf, yang telah mendapatkan petunjuk dan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada adakan berupa bid’ah bid’ah”

Allahlah tempat bermohon untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten kepada ajarannya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah lah Maha Pemberi dan Maha Mulia.
Semoga sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada hamba-Nya dan RasulNya Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada keluarga dan para sahabatnya, Amien.

(Dikutip dari ÇáÍÐÑ ãä ÇáÈÏÚ Tulisan Syaikh Abdullah Bin Abdul Aziz Bin Baz, Mufti Saudi Arabia dalam Majmu’ Fatawa Samahat al-Shaykh ‘Abdul-‘Aziz ibn Baz, 2/882. Penerbit Departemen Agama Saudi Arabia. Edisi Indonesia “Waspada terhadap Bid’ah”.). Posting ulang dari http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=472)

Rabu, 19 Juni 2013

PENYELANGGARAAN JENAZAH (MEMANDIKAN)

Oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husain Al-Atsariyyah


Sesosok jenazah terbujur di hadapan kita menanti uluran tangan insan yang hidup untuk memandikan, mengafani, menshalatkan dan menguburkannya. Yang demikian ini merupakan kewajiban orang yang masih hidup, namun bila telah ada sebagian orang yang menunaikannya, maka gugurlah kewajiban yang lain. (Al-Hawil Kabir, Al-Mawardi, 3/6. Al-Muhalla 4/343)
Berikut ini kami akan merinci penyelenggaraan jenazah seorang muslim, dimulai dari memandikannya.
Memandikan Jenazah
Hukum dimandikannya jenazah diperselisihkan ulama. Adapun penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini yang disebutkan oleh Al-Imam An-Nawawi  dalam Al-Majmu’ (5/112) tidaklah tepat. Karena kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani , perselisihan pendapat dalam masalah ini masyhur di kalangan madzhab Malikiyyah. Sampai-sampai Al-Imam Al-Qurthubi  menguatkan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah. Akan tetapi jumhur ulama berpendapat wajib, dan Ibnul ‘Arabi  telah membantah orang yang berpendapat dengan selain pendapat jumhur ini. (Fathul Bari 3/156)
Hadits Ibnu ‘Abbas  merupakan satu di antara beberapa dalil yang menunjukkan jenazah itu wajib dimandikan. Ibnu ‘Abbas  berkata: “Ketika seseorang sedang wuquf di Arafah, tiba-tiba ia jatuh dari hewan tunggangannya yang seketika itu menginjaknya hingga meninggal. Maka Nabi  memerintahkan para shahabatnya:
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara….”1
 
Yang Harus Diperhatikan sebelum Memandikan Jenazah
Sebelum memandikan jenazah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Pertama: Jenazah laki-laki harus dimandikan oleh laki-laki dan jenazah wanita dimandikan oleh wanita pula, kecuali suami istri. Diperbolehkan suami memandikan jenazah istrinya dan sebaliknya istri boleh memandikan jenazah suaminya menurut pendapat jumhur ulama (Syarhus Sunnah, Al-Baghawi, 5/309, Al-Muhalla 3/405, Nailul Authar 4/37, Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ 2/489).
Dengan dalil hadits ‘Aisyah :
“Nabi  kembali kepadaku setelah mengantarkan jenazah ke Baqi’. Ketika itu aku merasakan sakit pada kepalaku, maka aku katakan: “Aduh, kepalaku sakit.” Beliau  pun berkata: “Aduh, aku juga sakit kepalaku. Tidak bermudharat bagimu, seandainya engkau meninggal mendahuluiku, aku akan memandikan jenazahmu, mengafanimu, menshalatimu kemudian menguburkanmu.”2
Aisyah  berkata:
“Seandainya perkara yang telah lewat ini dapat kutemui pada waktu mendatang, niscaya tidak ada yang memandikan Nabi  kecuali istri-istri beliau.”3
Ibnu Hazm  menyatakan, suami boleh memandikan jenazah istrinya, istri pun boleh memandikan jenazah suaminya. (Al-Muhalla 3/405)
Kedua: Yang memandikan jenazah hendaklah orang yang memiliki pengetahuan tentang tata caranya, terlebih lagi bila orang tersebut dari kalangan keluarganya (Ahkamul Jana`iz, Asy-Syaikh Al-Albani  hal. 68). Dan diutamakan seorang yang shalih, karena ia dapat menahan dirinya untuk menceritakan aib (cacat/ cela) yang dilihatnya dari si mayit bahkan menutupinya. Rasulullah  bersabda:
“Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.”4
Sebagaimana pula beliau  bersabda:
“Siapa yang memandikan (jenazah) seorang muslim lalu ia menyembunyikan (apa yang dilihatnya dari aib si mayit) maka Allah akan mengampuninya 40 kali.”5
Ketiga: Jenazah yang akan dimandikan jangan diletakkan di atas tanah karena akan mempercepat kerusakan jasadnya, tapi diletakkan di atas tempat tidur atau papan yang lurus. Papan tersebut pada bagian kaki mayit agak dimiringkan sehingga air basuhan dapat mengalir ke bawah kaki, tidak mengalir ke kepala mayat atau menggenang di bawah tubuhnya. (Al-Mughni 2/164, Al-Majmu’ 5/131, Asy-Syarhul Mumti’ 2/479)

Tata Cara Memandikan Jenazah
Hadits ‘Aisyah  berikut ini mengawali pembicaraan kita tentang tata cara memandikan jenazah. Aisyah  berkata: “Ketika hendak memandikan Nabi , mereka berkata: ‘Demi Allah, kami tidak tahu, apakah kami harus melepaskan pakaian Rasulullah  sebagaimana yang biasa kami lakukan terhadap orang yang meninggal di kalangan kami, atau kami harus memandikan beliau dalam keadaan beliau tetap mengenakan pakaiannya?’ Maka ketika mereka berbeda pendapat dalam masalah ini, Allah  memberikan rasa kantuk pada mereka hingga mereka pun tertidur. Sampai-sampai tidak ada seorang pun dari mereka kecuali dagunya menempel pada dadanya. Kemudian ada seseorang yang tidak mereka ketahui mengajak bicara mereka dari sisi rumah. Orang itu berkata: “Mandikanlah Nabi  dalam keadaan tetap mengenakan pakaiannya”. Setelahnya mereka pun bangkit menuju Rasulullah  untuk memandikannya sementara gamis beliau tetap menempel pada tubuh beliau. Mereka menuangkan air di atas gamis beliau dan menggosok tubuh beliau dengan gamis tersebut, tidak langsung dengan tangan-tangan mereka.”6
Kemudian, hadits Ummu ‘Athiyyah Al-Anshariyyah  yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim  dalam Shahih keduanya, kita bawakan di bawah ini karena hadits ini termasuk pokok dalam masalah memandikan jenazah dan tata caranya. Sehingga sekelompok shahabat dan ulama dari kalangan tabi’in di Bashrah mengambil cara memandikan jenazah dari Ummu ‘Athiyyah (Al-Isti’ab 4/1947, Al-Ishabah 8/261). Ibnul Mundzir  berkata: “Tidak ada hadits yang berbicara tentang memandikan jenazah yang lebih tinggi daripada hadits Ummu ‘Athiyyah .” (Fathul Bari 3/159)
Shahabiyah yang biasa memandikan jenazah ini berkata, mengisahkan saat ia memandikan jenazah Zainab putri Rasulullah :
“Nabi n masuk menemui kami ketika kami akan memandikan jenazah putri beliau Zainab. Beliau berkata: ‘Mandikanlah dia tiga kali, lima kali atau lebih bila kalian pandang perlu, dengan air dan daun sidr. Jadikanlah akhir basuhannya bercampur dengan kapur barus atau sedikit dari kapur barus. Bila kalian telah selesai memandikannya, panggillah aku.” Maka ketika kami telah selesai, kami pun memanggil beliau. Beliau memberikan sarungnya pada kami seraya berkata: “Selimutilah tubuhnya7 dengan kain ini.”8
Ummu ‘Athiyyah juga mengabarkan:
Mereka menjadikan rambut putri Rasulullah  tiga pintalan, (sebelumnya) mereka menguraikannya (melepas ikatannya) kemudian mencucinya, lalu menjadikannya tiga pintalan.”9
Masih berita dari Ummu ‘Athiyyah :
“Rasulullah  bersabda ketika putri beliau sedang dimandikan:
“Mulailah dari bagian kanannya dan tempat-tempat (anggota-anggota, ed) wudhunya.”10

Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan bahwa cara memandikan jenazah adalah sebagai berikut:
1. Ketika hendak dimandikan, pakaian yang masih menutupi tubuh mayat dilepas seluruhnya, sebagaimana hal ini biasa dilakukan di masa Nabi  yang ditunjukkan dalam hadits Aisyah  di atas. Dan bagian auratnya ditutup (Asy-Syarhul Mumti’ 2/492), karena Rasulullah  bersabda:
“Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat laki-laki yang lain dan seorang wanita tidak boleh melihat aurat wanita lain.”11
Ibnu Qudamah t berkata: “Disenangi melepas pakaian si mayat ketika hendak dimandikan dan auratnya ditutup dengan kain.” (Al-Mughni 2/163)
Mayat dimandikan di tempat yang tertutup dari pandangan mata, yang hanya dihadiri oleh orang yang memandikannya beserta orang yang membantunya bila memang diperlukan. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin  berkata: “Sepantasnya mayat dimandikan di tempat yang tidak terlihat manusia, bisa di kamar atau di kemah dan semisalnya. Karena menutup mayat dari pandangan mata lebih utama dari menyingkapnya. Hal ini disebabkan karena mayat itu terkadang berada dalam keadaan yang tidak disenangi (untuk dipandang) sehingga menampakkannya di hadapan manusia merupakan satu bentuk penghinaan terhadapnya. Dan juga terkadang mayat itu menakutkan bagi orang yang melihatnya, terlebih lagi bagi sebagian manusia yang mereka ini sangat ketakutan bila melihat mayat. Dengan demikian, menutup mayat dari pandangan manusia lebih utama dan lebih menjaga.” (Asy-Syarhul Mumti’ 2/493)
2. Mayat mulai dicuci anggota-anggota wudhunya.
Ibnu Qudamah  mengatakan: “Setelah dihilangkan najis dari si mayat (dan dibersihkan, pen.), ia diwudhukan oleh orang yang memandikannya seperti wudhu untuk shalat. Dicuci kedua telapak tangannya. Lalu diambil kain yang kasar, dibasahi dan diletakkan pada jari orang yang memandikan si mayat. Kemudian dengan jari yang dibalut kain tersebut gigi geligi mayat diusap. Demikian pula bagian dalam hidungnya hingga bersih. Hal ini dilakukan dengan lemah lembut. Kemudian wajah mayat dicuci dan disempurnakan wudhunya.” (Al-Mughni 2/165)
Setelah mayat diwudhukan, rambutnya digerai dengan perlahan dan dicuci bersih. (Al-Hawil Kabir 3/10, Al Majmu’ 5/132). Bila mayat itu seorang wanita, rambutnya disisir dan dikepang tiga, dua kepangan pada dua sisi kepala dan satunya lagi di bagian rambut depan/ jambul, sebagaimana dinyatakan Sufyan Ats-Tsauri 12. Kemudian, sebagaimana kata Ummu ‘Athiyyah :
“Kami menjalin rambutnya menjadi tiga pintalan dan meletakkannya di belakangnya.”13
3. Setelahnya dimulai membasuh bagian kanan tubuh mayat.
Mayat dimandikan dengan tiga kali siraman atau lebih bila dipandang perlu oleh yang memandikan, namun tetap dalam hitungan ganjil. Pada sebagian siraman, mayat dibasuh dengan air yang dicampur dengan daun sidr (bidara) yang dihaluskan. Namun bila tidak didapatkan, bisa digantikan dengan pembersih lainnya seperti sabun atau yang lainnya (Ahkamul Jana`iz, hal. 64) karena Allah  berfirman:
“Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian.”
“Allah tidak membebani satu jiwa kecuali sekadar kemampuannya.”
Pada akhir basuhan, air dicampur dengan wewangian, lebih utama lagi dicampur dengan kapur barus yang dihaluskan. (Ahkamul Jana`iz, hal. 65, Asy Syarhul Mumti’ 2/497)
Air yang digunakan untuk memandikan mayat sebaiknya air dingin, namun bila ada kebutuhan dan melihat kemanfaatan bagi kebersihan tubuh si mayat, bisa digunakan air hangat (Al-Hawil Kabir 3/9, Asy Syarhul Mumti’ 2/497).
4. Ketika dimandikan, bagian-bagian tubuh mayat digosok perlahan dengan kain perca/ washlap atau semisalnya. Caranya, orang yang memandikan membungkus tangannya dengan kain tersebut atau menggunakan kaos tangan. Kemudian tubuh mayat digosok perlahan dari bawah kain penutup tubuhnya. Hal ini dilakukan agar orang yang memandikan tidak menyentuh aurat si mayit. Sebaiknya disiapkan lebih dari satu kain perca/ kaos tangan, sehingga setelah kain/ kaos tangan yang satu dipakai untuk menggosok bagian pembuangan si mayat, kain/ kaos tangan tersebut diganti dengan yang lain. (Al-Umm 1/302, Al-Hawil Kabir 3/9, Al-Majmu’ 5/130, Asy Syarhul Mumti’, 2/494)
Setiap kali basuhan, tangan orang yang memandikan tidak lepas dari mengurut-urut perut mayat agar sisa kotoran yang mungkin tertinggal dapat keluar. (Asy Syarhul Mumti’, 2/496)
Al-Imam Asy-Syafi’i t berkata: “Kemudian mayat dimandikan (mulai) dari sisi kanan lehernya, belahan (kanan) dadanya, rusuknya, paha dan betis (kanan)nya. Kemudian kembali ke bagian kiri tubuhnya dan diperbuat semisal bagian kanan tubuhnya. Setelahnya mayat dimiringkan ke rusuk kirinya, lalu dicuci punggungnya, tengkuk, paha dan betis kanannya. Kemudian dimiringkan ke rusuk kanannya dan dilakukan hal yang sama dengan sebelumnya. Setelah itu dicuci bagian bawah kedua telapak kakinya, antara dua pahanya dan belahan pantatnya dengan kain perca.” (Al-Hawil Kabir 3/10, Al Majmu’ 5/133)
Selesai dari semua itu, seluruh tubuh mayat disiram dengan air yang dicampur dengan kapur barus.
Usai basuhan terakhir, kedua tangan mayat dirapatkan pada rusuknya dan kedua kakinya dirapatkan hingga kedua mata kakinya saling menempel, kedua pahanya pun saling dirapatkan. Bila keluar sesuatu dari tubuh mayat setelah selesai dimandikan maka dibersihkan dan tubuhnya dibasuh sekali lagi. Terakhir, tubuh mayat dikeringkan dengan kain. Setelah kering, diletakkan di atas kafan yang telah disiapkan. (Al-Umm 1/303, Al-Hawil Kabir 5/12)
Mengusap Perut Mayat agar Kotoran yang Ada di Dalamnya Keluar
Ketika mayat telah dibaringkan di tempat yang disiapkan untuk memandikannya, mayat didudukkan sedikit (hampir mendekati posisi duduk) dengan mengangkat kepalanya. Lalu orang yang memandikan menjalankan tangannya di atas perut mayat berulang kali (diusap dengan tekanan/ diurut) dengan lembut agar keluar kotoran yang mungkin masih ada dalam perutnya14, kemudian dibersihkan/ dicebok dengan cara orang yang memandikan membalutkan tangannya dengan kain atau dengan memakai kaos tangan, kemudian ia membersihkan kemaluan si mayat dari kotoran yang keluar. Hal ini dilakukan untuk mencegah jangan sampai kotoran itu keluar setelah mayat selesai dimandikan sehingga mengotori kafannya. (Al-Umm 3/404, Al-Majmu’ 5/130, Asy-Syarhul Mumti’ 2/493-494)
Disenangi bila di dekat tempat tersebut diletakkan wangi-wangian seperti bukhur (dupa yang dibakar sehingga asapnya menyebarkan aroma yang wangi) agar bau tidak sedap yang mungkin tercium dari kotoran si mayat bisa tersamarkan. (Al- Majmu’ 5/135, Al-Mughni 2/165).
Apa yang Dilakukan setelah Selesai Memandikan Jenazah?
Selesai memandikan jenazah, disunnahkan bagi yang memandikannya untuk mandi menurut pendapat jumhur ulama15 (Al-Majmu’ 5/144), dengan dalil sabda Nabi :
“Siapa yang memandikan jenazah, maka hendaklah ia mandi. Dan siapa yang memikul jenazah, hendaklah ia berwudhu.”16
Perintah Rasulullah  dalam hadits di atas tidaklah bermakna wajib karena ada hadits lain yang mauquf17 namun hukumnya marfu’, kata Asy-Syaikh Al-Albani . Salah satunya dari Ibnu ‘Umar , ia menyatakan:
“Kami dulunya memandikan mayit, maka di antara kami ada yang mandi dan ada yang tidak mandi.”18
Bolehkah Wanita yang Sedang Haid atau Nifas Memandikan Jenazah?
Dalam masalah ini ahlul ilmi berbeda pendapat, antara yang membolehkan dengan yang menganggap makruh. ‘Alqamah berpendapat boleh, sedangkan Al-Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin berpendapat makruh sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (2/254). Pendapat yang kami pandang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang membolehkan karena tidak adanya larangan dari Nabi  dalam hal ini. Pendapat ini dipilih Al-Imam An-Nawawi  dalam Al-Majmu’ (5/145).
Ditanyakan kepada Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta`19 tentang permasalahan ini, maka keluarlah fatwa dari lajnah ini bernomor 6193 dengan pernyataan: boleh bagi wanita yang sedang haid untuk memandikan dan mengafani jenazah wanita, atau jenazah suaminya secara khusus, karena haid tidak teranggap sebagai penghalang untuk memandikan jenazah. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah 8/369)
Mayat Meninggal dalam Keadaan Haid atau Junub
Apabila mayat meninggal dalam keadaan haid atau junub maka cukup dimandikan dengan sekali mandi karena tidak ada larangan dalam hal ini, demikian pendapat sejumlah ulama. (Al-Majmu’ 5/123). Pendapat inilah yang kuat, Insya Allah, walaupun dalam hal ini ada ulama lain yang memakruhkan bila si mayat hanya dimandikan sekali. Al-Hasan berpendapat mayat yang junub dimandikan dengan mandi janabah dulu, yang haid juga dimandikan mandi haid dulu, kemudian baru dimandikan dengan mandi jenazah, sehingga mayat dimandikan dua kali mandi. (Riwayat Ibnu Abi Syaibah 2/254)
Apakah Janin yang Gugur Harus Dimandikan?
Bila janin tadi belum genap empat bulan maka tidak dimandikan, tidak pula dishalati. Dia dibalut dalam kain dan dikuburkan, kata Ibnu Qudamah , karena sebelum berusia empat bulan janin itu belum ditiupkan ruh sehingga belum menjadi manusia. Adapun bila janin telah genap empat bulan maka harus dimandikan. (Al-Mughni 2/200, Asy-Syarhul Mumti’2/507)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.