Selasa, 28 Mei 2013

PILKUWU Desa Bendungan 12-05-2013


 1. BEBERAPA HARI JELANG PILKUWU

Kenapa babe pakai jas putih? Sebelumnya udah foto pakai jas hitam. Dan udah dicetak pula. Ngeliat poster lawan pakai jas hitam, langsung babe minta difoto lagi. Pakai jas putih tentunya. Sadar kampanye hehehe...

 
Bendungan Bersatu. Dengan Nomor 2 tentunya.

 
Menimati bakso Cepot memang tiada duanya.

Adem ayem
Polosnya anak-anak (1)

Polosnya anak-anak (2)
Semoga kelak menjadi manusia yang sukses
 Polosnya anak-anak (3)
Salah satu bukti Pak Kuwu kerja. Berdirinya PAUD




Supporter dari Jakarta.
Santai sejenak disaat minggu tenang.



Pengajian Ibu-ibu. Bagian dari kampanye.
Secara syar'i hukumnya boleh gak ya?
Memang semua kembali ke niat.


2. SAAT PEMILIHAN

 Hari 'H'. Semua karena Allah Ta'Ala.
Tong tegang kitu Bah.

Bismillah. Maju terus. Perjuangan belum selesai!

Eeng...Iing...eeng...ketemu lawan. No comment ah...



Salah satu bukti kesuksesan kuwu incumbent.
Balai Desa kebanggan rakyat Bendungan


 
KPU desa. Sibuk-sibuk dan sibuk.

 Ketua KPU Desa. 
"Saya teh...pilih siapa yah?" ceunah.

Peralatan yang sofitiskated

 Aparat yang mengabdi

  Aparat yang mengabdi
Yang ini keliatan bener mengabdinya




Ikrar Kuwu.
Semoga amanah.

3. ANTUSIASIME WARGA (patut diacungin jempol)










Bukti kemajuan desa 

3. PROFIL PENDUKUNG NO 2 (ya iyalah, wong masih sedulur)  





Iqboy. Dulu ni bocah hampir dipungut sama kita.
Sama pengasuhnya gak boleh. Sekarang malah kesian hidupnya.







3. PASCA PENCOBLOSAN

 Istirahat sehabis coblos


masuk tipi 



Penghitungan suara yang menegangkan.
Kejar-kejaran suara.

3. DAN...MENAANG!!


Pada akhirnya sebenarnya tidak ada yang menang atau kalah.
Mari berlapang hati. Membangun desa bersama.


  





Rabu, 22 Mei 2013

Fakta Dibalik 'Harus' Naiknya BBM

Kami sdh sering bahas permasalahan BBM dan subsidi BBM di twitland. Ada belasan kultwitnya. Utk ringkasnya kita ulang fakta2nya

Fakta 1 : Produksi Crude Oil RI kian turun. Skrg hny 840.000 barrel per day (bpd). Sementara konsumsi domestik hampir 1.4 juta bpd

Fakta 2 : dari produksi 840.000 bpd tsb, ada hak atau bagian kontraktor, asumsikan rata2 20%. Hak RI = 672.000 bpd. Artinya RI harus impor atau beli kekurangan BBM (crude oil & product) sebanyak 728.000 bpd. Setahun = 265,720 juta barrel

 Fakta 3 : tahun 2011 RI via Petral mengimpor 266.5 juta barrel BBM. Product Oil = 200.5 juta barrel dan Crude oil = 66 juta barrel. Kenapa RI impor sebegitu banyak Product Oil (gasoline, diesel dst) dibandingkan Crude oil ? Kilang (Refinery) yg ada di RI speknya lebih banyak diperuntukan utk bahan baku Crude Oil jenis Light Oil (WTI, arabian & africa dsj) Disamping itu,

Fakta 5 : Kapasitas kilang terbatas / kurang. Kenapa RI bangun Kilang yg berbahan baku Light Oil bukannya Crude jenis Produksi sendiri (Minas dll) ? Ada apa ini ??

Fakta 6 : karena Kilang butuh kepastian supply bahan baku crude jangka panjang. RI tdk mampu sediakan. Cadangan minyak RI tipis Cadangan minyak RI diprediksi habis tahun 2022. Sumur2 kering. Minyak tak menetes lagi dari bumi Indonesia. KOSONG !! Investor tdk mau rugi jika bangun Kilang di RI. Investasinya besar sekali. Sebab itu Kilang yg dibangun harus dipastikan supply BBnya Supply yang terjamin adalah crude jenis WTI atau arabian & african oil. Kilang2 dibangun disesuaikan dgn jaminan pasokan bahan baku Berdasarkan fakta2 tadi, maka Crude oil produksi RI itu terpaksa dijual / ekspor ke LN. Kita impor crude & product dari LN Apakah semua Crude RI dijual? Tentu tidak. Sebagian saja yg merupakan sisa kelebihan atau yg tdk bisa diolah oleh Kilang di RI

 Fakta 7 : berapa harga produksi product oil (gasoline, diesel dst) ? Murah. Hanya 0.30 sd 0.60 USD per gallon (3.75 liter). Artinya, jika crude oil RI sendiri yg diolah, maka tanpa masukan harga BB nya, harga bensin dan solar = USD 0.60 : 3.75 = Rp. 1600 /ltr Rp. 1.600 ini adalah biaya produksi minus biaya bahan baku (crude oil) + transportasi + margin SPBU dll + pajak = Rp. 2.500-3000/ltr Asumsi seperti tadi itulah yg selalu JADI DASAR harga BBM oleh segelintir orang yg menolak kenaikan BBM. Mereka TUTUPI fakta2 yg ada. Jika RI seperti Negara2 Arab atau Venezuela yg produksi crude oilnya melimpah, asumsi itu SAH !! Tapi faktanya RI ini IMPORTIR minyak. Tidak tanggung2, 266 juta barrel per tahun !! Artinya, biaya produksi included biaya bahan baku Artinya, harga BBM RI terpaksa mengikuti harga pasar dunia. Fakta2 inilah yg dipelintir oleh sebagian dari kita yg TAK PEDULI !

Fakta 8 : Isu BBM selalu dijadikan Isu Politik oleh politisi dan tokoh2 tertentu untuk SERANG pemerintah dan CARMUK di depan rakyat

Fakta 9 : mahasiswa2 yg bodoh malas dan aktivis2 yg bermental pelacur, sering menolak pengurangan subsidi BBM. Para Tokoh, Politisi, Aktivis2 itu bukannya ikut menjelaskan ke rakyat bgmn MERUSAKNYA subsidi BBM tsb. Tapi malah jadi KOMPOR. Edan ! Dengan dalih kepentingan rakyat MEREKA teriak dan provokasi mahasiswa (yg bodoh malas) utk menentang pengurangan subsidi BBM. MEREKA para politisi, tokoh dll itu MENIKMATI sikap mereka yg tercela itu. Menjadi pengkhianat bagi Kepentingan Rakyat yg sesungguhnya. MEREKA bukan NEGARAWAN. Mereka bukan pembela rakyat sejati. Mereka hnya bela kepentingan diri, golongan atau partainya sendiri.

Fakta 10 : Presiden SBY ternyata juga MENIKMATI protes2 semua pihak yg anti pengurangan subsidi BBM itu. SBY ikuti dgn senang hati. Bagi SBY yang TERPENTING adalah kekuasaan dan posisinya AMAN. Dia tdk mau all out beri pemahaman kpd rakyat Indonesia. EGP katanya hehe

Fakta 11 : bahkan dengan BBM murah tsb, orang2 sekitar SBY, oknum Pertamina / BPH Migas, oknum2 aparat, penyelundup dll : UNTUNG BESAR ! Kenapa ? Karena BBM bersubsidi bisa 'dimainkan'. Digelapkan dan dialihkan ke industri, tambang, pabrik2 dgn harga di bwh non subsidi BBM bersubsidi bisa dimainkan dgn selundupkan ke LN. Harga di spore 12.000/ltr. Di RI 4.500/liter. Jual harga 7000/ltr ke LN. Sedap !

 Fakta 12 : anggaran atau pagu BBM bersubsidi selalu JEBOL. Diatas quota. Kok bisa? Konsumsi BBM naik drastis. Kemana? Diselundupkan !

Fakta 13 : terjadi kelangkaan BBM dimana2. Diseluruh Indonesia. Meski quota sdh habis. Rakyat menjerit. DPR terpaksa setuju tambah Maka terjadilah keanehan setiap tahun. Sejak 2009 sd skrg. BBM subsidi selalu langka. Padahal kuota naik lbh tinggi dibandingkan GROWTH Mhsw Ekonomi semester I pun tahu jika melihat anomali BBM ini. Yaitu : ADA PERMAINAN. Ada Mafia BBM. Akibat DISPARITAS/selisih harga. Bgmn solusinya ? Hanya 2 : hapuskan disparitas harga atau tegakkan hukum pada Mafia BBM itu. Mampukah RI tegakkan hukum? Hehe

Fakta14 : Subsidi BBM SANGAT beratkan keuangan negara. Jika tdk dikurangi, akhir 2013, total subsidi BBM & energi sejak 09 tembus 800 T.

 Fakta 15 : Pemerintah terpaksa UTANG utk tutupi subsidi BBM yg menjebol APBN. Selamat..utang RI sdh Rp. 1988.87 Triliun per feb 2013

 Fakta 16 : akibat subsidi BBM/energi yg sangat besar (thn ini bisa capai 356 T), APBN tdk pnya dana cukup utk pembangunan/kesejahteraan. Jalanan hancur dimana2, jalan, jembatan, pelabuhan baru tdk bisa dibangun. Listrik defisit. RS, Sekolah, dll dikurangi. BABAK BELUR

Fakta 17 : Infrastruktur yg hancur (plus birokrasi korup, tdk ada kepastian hukum dll) menyebabkan investasi baru terhambat. Ogah masuk Mana ada investor waras yg mau tanamkan modal buat pabrik, industri, hotel dll kalau listrik tak ada, jalanan hancur, pelabuhan macet. Lalu kok masih ada juga investor yg nekad PMA /PMDN ? Itu adalah investor kelas II, III atau yakin untung besar karena keruk SDA RI

Fakta 18 : tdk ada teori ekonomi makro didunia ini yg rumuskan : Subsidi produk primer yg timbulkan disparitas hrg pd pasar = BAIK". Semua subsidi bebas produk primer yg timbulkan disparitas harga = DESTRUKTIF ! Merusak. Koruptif. Kecuali jk Tuhan jadi Presiden RI hehe Jadi..bgmn ? Masih mau nolak subsidi BBM yg hanya untungkan rezim SBY dan kroni2nya? Hny perkaya mafia2 BBM? Mau ? Kalau saya : NO WAY ! Mau sih..tapi bgmn dampaknya thdp rakyat kecil ?? Nah itu dia ! Yg penting sepakat dulu subsidi BBM itu harus dikurangi. Itu dulu Setelah itu baru dirumuskan solusi pengurangan dampak bagi rakyat kecil. Jika subsidi dicabut total : ada 300 T dana yg bisa diatur baik Uang pengalihan dari subsidi BBM itu sbgn utk : jaminan mempertahankan kesejahteraan rakyat yg terkena dampak naiknya hrg BBM Sbgn bisa utk bantuan program ekonomi kerakyatan : program stimulus ekonomi, progam padat karya dll...pemerintah pasti lebih tahu. JAGO Kalau peemrintahan SBY ini TIDAK tahu cara atasi dampak dan manfaatkan seoptimal mgkin dana eks subsidi BBM ini : PANGGIL JK. Beres !

Jumat, 26 April 2013

Siapa Bilang Malam Nisfu Sya'ban itu Bid'ah? (Kupas Tuntas Hukum Nisfu Sya'ban)

8 Juli 2011 Diposkan oleh Jundullah Abdurrahman Askarillah di 22.50

Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa rahmat. Amma ba'du:
Sesungguhnya Allah telah berfirman, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhai Allah? Sekirannya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh adzab yang pedih." (QS. Asy-Syura': 21)
 Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda,"Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak." (HR. Bukhari)
Dalam lafazh Muslim: "Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak." Dalam Shahih Muslim dari Jabir Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi pernah bersabda dalam khutbah Jum'at: Amma ba'du, sesungguhnya sebaik- baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur'an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , dan sejahat-jahat perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat."

Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat- Nya bagi mereka; Dia tidak mewafatkan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali sesudah beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun pengamalan.

Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid'ah yang tertolak, meskipun niatnya baik. Para shahabat dan ulama' mengetahui hal ini, maka mengingkari perbuatan-perbuatan bid'ah dan memperingatkan kita darinya. Hal itu disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan pengingkaran bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhah Ath Tharthusyi dan Abu Syaamah dan lain sebagainya.

Di antara bid'ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid'ah mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan pada hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits tentang fadhilah malam tersebut tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan. Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan shalat pada hari itu adalah maudhu'. Dalam hal ini, banyak di antara para 'ulama yang menyebutkan tentang lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan fadhilah shalat pada hari Nisfu Sya'ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari ucapan mereka. Pendapat para ahli Syam di antaranya Hafizh Ibnu Rajab dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif" mengatakan bahwa perayaan malam Nisfu Sya'ban adalah bid'ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah. Hadits-hadits lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh hadits-hadits shahih, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya'ban tidak ada dasar hadits yang shahih sehingga tidak bisa didukung dengan dalil hadits- hadits dhaif.

Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini dan kami akan menukil pendapat para ahli ilmu kepada sidang pembaca sehingga masalahnya menjadi jelas; para ulama' telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasul (Al-Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh keduanya atau salah satu daripadanya, maka wajib diikuti dan apa saja yang bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu amalan ibadah yang belum pernah disebutkan adalah bid'ah; tidak boleh dikerjakan apabila mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.

Allah berfirman dalam surat An-Nisaa': "Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisaa': 59) 
 "Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Tuhanku. Kepada-Nyala aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali." (QS. Asy-Syuraa: 10) 
 "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya." (QS. An-Nisaa' : 65) 

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang semakna dengan ayat- ayat di atas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya masalah-masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh keduanya (Al-Qur'an dan Hadits). Demikianlah yang dikehendaki oleh Islam, dan merupakan perbuatan baik bagi seorang hamba terhadap Tuhannya, baik di dunia atau di akherat nanti, sehingga pastilah ia akan menerima balasan yang setimpal.

Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya'ban Ibnu Rajab berkata dalam bukunya "Lathaiful Ma'arif", "Para Tabi'in dari ahli Syam (Syiria, sekarang) seperti Khalid bin Ma'daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfu Sya'ban kemudian orang- orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu dari mereka. Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya cerita-cerita israiliyat, tatkala masalah itu tersebar ke penjuru dunia, berselisihlah kaum muslimin; ada yang menerima dan menyetujuinya ada juga yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah Ahli Bashrah dan lainyya seang golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas ulama Hijaz (Saudi Arabia, sekarang), seperti Atha' dan Ibnu Abi Malikah dan dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bi Aslam dari fuqaha' Madinah, yaitu ucapan Ashhabu Malik dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid'ah.

Adapun pendapat ulama' ahli Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan dua pendapat: Yang pertama, menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya'ban dalam masjid dengan berjamah adalah mustahab (disukai Allah). Dahulu Khalid bin Ma'daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar menyan, memakai celak dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid. Ini disetujui oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata: "Menjalankan ibadah di masjid pada malam itu secara jamaah tidak bid'ah."

Hal ini dicuplik oleh Harbu Al-Kirmany. Yang kedua, berkumpulnya manusia pada malam Nisfu Sya'ban di masjid untuk shalat, bercerita dan berdo'a adalah makruh hukumnya, tetapi boleh jika menjalankan shalat khusus untuk dirinya sendiri. Ini pendapat Auza'iy Imam Ahlu Syam, sebagai ahli fiqh dan cendekiawan mereka. Insya Allah pendapat inilah yang mendekati kebenaran, sedangkanpendapat Imam Ahmad tentang malam tentang malam Nisfu Sya'ban ini,tidak diketahui." Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu Sya'ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan, karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya, dan ia termasuk tabi'in, begitu pula tentang malam Nisfu Sya'ban, Nabi belum pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu hanya ketetapan dari golongan tabi'in ahli fiqih Syam. Demikian maksud dari Al-Hafizh Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya). Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfu Sya'ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para shahabat. Adapun pendapat Imam Auza'iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan shalat pada malam hari itu secara individu dan penukilan Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu adalah gharib dan dhaif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah ditetapkan oleh dalil-dalil syar'iy, tidak boleh bagi seorang pun dari kaum muslimin mengada- adakannya dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun terang- terangan, sebab keumuman hadits Nabi: "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak." Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid'ah dan memperingatkan agar dijauhi.
Imam Abu Bakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, "Al-Hawadits wal Bida", "Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: kami belum pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang menghadiri perayaan malam Nisfu Sya'ban, tidak mengindahkan hadits Makhul (dhaif) dan tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap malam-malam lainnya
. Dikatakan kepada Ibnu Malikah bahwasanya Ziad An Numairiy berkata: Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya'ban menyamai pahala Lailatul Qadar. Ibnu Malikah menjawab: Seandainya saya mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad adalah seorang penceramah. Al-'Allamah Syaukani menulis dalam bukunya, Al-Fawaaidul Majmu'ah, sebagai berikut: Hadits: "Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban sebanyak 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya... dan seterusnya." Hadits ini adalah maudhu' (palsu), pada lafazh-lafazhnya menerangkan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu' dan perawi-perawinya majhul.

Dalam kitab "Al Mukhtashar" Syaukani melanjutkan : Hadits yang menerangkan shalat Nisfu Sya'ban adalah batil. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali Shallallahu 'alaihi wa sallam : Jika datang malam Nisfu Sya'ban bershalat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dhaif. Dalam buku Allaali' diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya'ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy, hadits ini maudhu' tetapi mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul (tidak diketahui) dan dhaif (leman). Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu'. Dan hadits empat belas rakaat ... dan seterusnya adalah maudhu' (tidak bisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent). Para fuqaha' banyak tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti pengarang Ihya' Ulumuddin dan lainnya juga sebagian dari mufassirin. Telah diriwayatkan bahwa, shalat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya'ban yang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia itu, semuanya adalah bathil/tidak benar dan haditsnya adalah maudhu'.

Anggapan itu tidak bertentangan dengan riwayat Tirmidzi dari hadits Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pergi ke Baqi' dan Tuhan turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya'ban untuk mengampuni dosa sebanyak jumlah bulu domba dan bulu kambing. Sesungguhnya perkataan tersebut berkisar tentang shalat pada malam itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya munqathi' (terputus) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan di atas mengenai malam Nisfu Sya'ban, jadi dengan jelas bahwa shalat malam itu juga lemah dasarnya. Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat Nisfu Sya'ban maudhu' dan pembohongan atas diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam .

Dalam kitab Al Majmu', Imam Nawawi berkata: Shalat yang sering kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas raka'at dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada malam Jum'at pertama bulan Rajab; dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban. Dua shalat itu adalah bid'ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya' Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut batil (tidak boleh diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan hukum bagi kedua hadits, yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian berarti salah kaprah.

Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadasiy telah mengarang sebuah buku yang berharga; Beliau menolak (menganggap batil) kedua hadits (tentang malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut, sebaik mungkin. Dalam hal ini telah banyak pengapat para ahli ilmu; maka jika kita hendak memindahkan pendapat mereka itu, akan memperpanjang pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.

Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq) bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban dengan pengkhususan shalat atau lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa; itu semua adalah bid'ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya dalam syariat ini (Islam), bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa hidupnya para shahabat Radhiyallahu 'anhu . Marilah kita hayati ayat Al-Qur'an di bawah:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhai Islam sebagai agama bagimu." (QS. Al-Maidah: 3)
Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas. Selanjutnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama (sepeninggalku), yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak."
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: Rasulullah pernah bersabda: "Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum'at daripada malam-malam lainnya dengan suatu shalat, dan janganlah kamu sekalian mengkhususkan siang hariny autk berpuasa daripada hari-hari lainnya, kecuali jika (sebelumnya) hari itu telah berpuasa seseorang di antara kamu." (HR. Muslim)
 Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan oleh Allah, maka bukanlah malam Jum'at itu lebih baik daripada malam-malam lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari matahari? Hal ini berdasarkan hadits-hadits Rasulullah yang shahih. Tatkala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk mengkhususkan shalat pada malam hari itu daripada malam lainnya, hal itu menunjukkan bahwa pada malam lain pun lebih tidak boleh dikhususkan dengan ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang mengkhususkannya/
menunjukkan atas kekhususannya.

Menakala malam Lailatul Qadar dan malam-malam blan puasa itu disyariatkan supaya shalat dan bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu. Nabi mengingatkan dan menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , bahwasanya beliau bersabda: "Barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada bulan Ramadhan dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat." (HR. Bukhari dan Muslim) Jika seandainya malam Nisfu Sya'ban, malam Jum'at pertama pada bulan Rajab, serta malam Isra' Mi'raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan upacara atau ibadah tentang, pastilah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankannya sendiri.

Jika memang hal itu pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya, karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak memberi nasehat setelah para nabi. Dari pendapat-pendapat ulama' tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah ataupun dari para shahabat tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan Rajab.

Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut adalah bid'ah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan ibadah tentang adalah bid'ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang banyak diyakini orang sebagai malam Isra' dan Mi'raj, begitu juga tidak boleh dikhususkan dengan ibadah- ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan ibadah-ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.

Demikianlah, maka jika anda sekalian sudah mengetahui, bagaimana sekarang pendapat anda? Yang benar adalah pendapat para ulama' yang menandaskan tidak diketahuinya malam Isra' dan Mi'raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam Isra dan Mi'raj itu jatuh pada tanggal 27 Rajab adalah batil, tidak berdasarkan pada hadits-hadits shahih. Maka benar orang yang mengatakan; Dan sebaik-baik suatu perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para salaf, yang telah mendapat petunjuk. Dan sehina-hina perkara (dalam agama), yaitu perkara yang diada-adakan berupa bid'ah-bid'ah. Allah-lah yang bertanggung jawab untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah dan konsisten di atasnya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan dengannya, karena hanya Allah yang terbaik dan termulia.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam begitu pula atas keluarga dan para shahabat beliau. Amiin.

Rujukan: Disalin dari kitab Waspada Terhadap Bid’ah Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Farid Ahmad Oqbah, Riyadh: Ar-Raisah Al-'Ammah li-IdaratiAl-Buhuts Al-'Ilmiah wa Al-Ifta' wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyad, 1413 H. Read more: http://cafe-islamicculture.blogspot.com/2011/07/siapa-bilang-malam-nisfu-syaban-itu.html#ixzz2RYmXlwIG